Pertanyaan :
Assalamu'alaikum ustadz                       
Bagaimana hukumnya jika ada orang yang memberi hadiah kepada kita setelah kita beri hutang/pembiayaan, apakah termasuk riba?                       
Mohon penjelasannya, terima kasih
Jawaban:
Hadiah utk pegawai dr pengguna jasa pd dasarnya boleh. Krn islam menganjurkan pemeluknya utk saling memberikan hadiah.Rasulullah saw bersabda: تهادوا تحابوا
"Saling memberi hadiahlah niscaya kalian saling mencintai .HR.Bukhari.          

           
Akan tetapi kalau hadiah itu diberikan oleh org yg membutuhkan jasa kpd yg memberikan jasa  dan pemberi jasa sdh digaji  oleh pihak yg mempekerjakannya, sementara pemberi hadiah memberikannya bukan krn rasa hormat kpd yg diberi akan tetapi krn jabatannya, maka dlm kasus ini tdk lg murni sbg hadiah , akan tetapi telah berubah menjadi risywah atau bahka riba.                       
Hal ini sebaiknya ditinggalkan krn berpotensi mengakibatkan pegawai tsb menjalankan tugas sesuai keinginan pemberi tanpa memperimbangkan propesionalisme dan ketentuan yg semestinya.                       
Hanya saja imam Asyaukani memberikan rincian. Beliau berkata:"hadiah atau pinjaman  dan sejenisnya jika bertujuan utk memperpanjang masa pembayaran hutang atau utk menyuap org yg memberi hutang dpt menggunakan fasilitas dr yg diberi hutang maka itu adlh haram krn tetmasuk riba atau ryswah (suap)                       
Akan tetapi kalau sekedar melakukannya krn faktor kebiasaan yg sdh berlangsung lama antara org yg berhutang dg org yg memberi hutang sebelum terjadinya akad hutang tsb maka dibolehkan.
Nabi saw bersabda: "apabila salah seorang diantara kamu memberikan pinjaman lalu ia memberi hadiah atau diajak menungganginya janganlah menerima hadiah tsb kecuali jika kebiasaan tsb sdh berlangsung antara kalian sebelum itu .HR Ibnu Majah.                       
Kesimpulan:
1. Hadiah yg diberikan oleh sipeminjam kpd yg memberikan pinjaman yg disyaratkan saat terjadinya akad hukumnya tdk boleh baik diberikan sebelum atau sesudah pelunasan
2. Apabila hadiah itu tdk dijadikan persyaratan dan diberikan setelah pelunasan serta inisiatif pemberian itu datangnya dr peminjam bahkan pemberian hadiah itu sdh menjadi kebiasaan yg sdh berlangsung lama sebelum adanya akad bukan krn adanya hutang piutang tsb maka hukumnya boleh dan tdk termasuk riba atau ryswah.                       
3. Tradisi pemberian hadiah dr penerima jasa kpd pemberi jasa yg telah mendapatkan gaji dr pihak yg mempekerjakannya dan jasa tsb sdh menjadi tugas dan kewajibannya sebaiknya dihindari, hal ini sbg bentuk tindakan prepentiv terjadinya suap atau riswah. Wallahu A'lam
Punya pertanyaan seputar Agama Islam? kirim pertanyaan melalui SMS 08122849570

Login Form